Langsung ke konten utama

ANDINI

#prolog#

Zian menyesap aroma mocha dari cangkirnya. Secangkir mochacino panas buatan Bi Inem menemani malam dingin berhujannya. Laki-laki berkulit putih itu menatap jendela kamar yang masih terbuka lebar. Menampilkan hujan yang turun makin deras, hingga percikannya pun mampu menerobos masuk ke kamar yang didominasi warna light blue tersebut.
Laki-laki berambut spike itu beranjak dari sofa dan berjalan mendekati jendela kamarnya. Alih-alih menutup, ia malah menjulurkan tangan dan membiarkan tangannya merasakan percikan air hujan yang berasal dari beranda kamarnya. Zian menutup mata perlahan, mendengarkan suara hujan yang bergema di telinganya. Sekelebat ingatan pun mulai bermunculan dalam kepalanya seirama gema suara hujan di kedua telinganya.
Andini..’  ucapnya lirih. Sebuah nama melesat mulus dari bibir tipisnya. Sebuah nama yang selalu memenuhi kepalanya dan tentu saja hatinya. Zian membuka mata. Menampilkan iris mata cokelat yang diwariskan sang ayah padanya.
Ditatapnya langit malam itu. Gelap. Dingin. Sepi. Suasana yang juga dirasakannya setahun yang lalu. Kegelapan sang malam yang membuatnya melihat kenyataan  meski dalam kegelapan sekalipun.
Zian menutup jendela kamarnya. Berjalan kembali menuju sofa berwarna krem di sudut kamar, tempat favorit sang pemilik kamar. Ia menyeruput mochacino yang tadi sempat terabaikan.
Andini’ sekali lagi nama itu terucap begitu ia memandang gantungan handphone berbentuk  daun clover hijau yang terpasang di handphonenya.
Zian tersenyum getir mengingat gadis itu. Terkadang rasa marah dan kecewa pada Dia yang maha tahu datang menyusup ke hatinya. Tetapi kata-kata yang ditinggalkan Andini selalu berhasil membuatnya tenang kembali.
Tuhan itu jauh lebih tau apa yang kita butuhkan lebih dari diri kita sendiri, jika pada akhirnya kita tidak bisa bersama seperti keinginan kita, maka mungkin itu adalah yang kita butuhkan dan sudah seharusnya
“benarkah ini yang aku butuhkan?bagaimana jika bagiku kamulah yang kubutuhkan?” tanya Zian, entah pada siapa. Digenggamnya gantungan clover hijau itu dengan erat. Sangat erat hingga tangan putihnya nampak memerah.
“keajaiban yang Tuhan berikan adalah kamu.”
--
#hujan di malam itu#

Setahun lalu.

            Hari ini hujan turun sangat deras. Udara dingin yang tercipta sungguh membuat Zian semakin mempererat jaketnya. Dari balik kaca mobil terlihat bulir-bulir air yang menghempas dengan kencang. Ia menggigil, badannya panas tetapi ia merasa sangat kedinginan. Keringat dingin membasahi kemeja putih bersihnya. Matanya tersa perih, kepalanya pening. Meski begitu ia tak peduli. Di pikirannya saat ini hanya satu : memberikan surprise untuk Dona—kekasih hatinya.
            “Den...” panggil Mang , supir pribadinya ketika mobil berhenti di lampu merah. Zian tak menjawab, hanya erangan yang ia keluarkan. Dia berharap tubuhnya tidak ambruk saat ia bertemu Dona nanti.
            Hari ini Dona berulang tahun. Zian telah menyiapkan kado istemewa untuk gadis tersebut. Sebuah kalung berbandul permata warna merah jambu berbentuk hati mungil terbungkus rapi dalam kotak kuning berhias pita biru langit.
            “Den Zian, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit dulu” bujuk mang Ujang supir pribadi Zian. Wajah Zian nampak makin memucat. Entah berapa derajat suhu tubuhnya saat ini. Sebelum berangkat suhu tubuhnya ialah 37 derajat celcius. Dan sekarang satu jam sudah berlalu ditambah hujan deras yang membuat demamnya makin parah.
            Zian menggeleng, giginya gemeretak sehingga membuatnya sulit bicara. Mang Ujang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kekerasan kepala tuan mudanya tersebut. Hari ini jalanan macet tidak seperti biasa. Mungkin karena hujan deras yang mengguyur kota sejak sore. Zian kembali menatap jam tangan Rolex miliknya.
‘tinggal sejam lagi sebelum jam 12’ pikir Zian.

Sebentar lagi hari akan berganti. dan karena sakit ia tak bisa merayakan hari spesial Dona seperti rencana awalnya, yakni melaksanakan candlelight dinner romantis di pinggir pantai. Tidak, ia tidak mau mengecewakan gadis yang sudah dipacarinya selama hampir 3 tahun itu hanya karena demam sialan ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STORY OF ME

now playing : the Rain_Terlatih patah hati berbagi kisah tentu lebih menyenangkan dengan orang yang juga menjadi bagian dari hidup kita, tapi pernahkah kalian merasa ada pada fase ingin keluar dari zona nyaman dan bertemu dangan keterasingan ? asing yang menyamankan. terkadang aku berharap saat berjalan atau pergi ke suatu tempat dapat bertemu pandang dengan seseorang yang tak mengenal dan tak mengetahui apapun tentangku. berbincang tanpa menilai seperti apa sifat dan karakter kita, mengatakan apapun, membenarkan apapun, dan tentu saja menyalahkan apapun yang datang dalam kehidupan.  asing yang menyamankan. terkadang aku berharap mampu menangis tanpa harus menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. hanya memberi bahu dan meminjamkan tangannya hingga air mata mengering dan semuanya terlupakan. asing yang menyamankan. aku berharap bisa melakukannya tanpa berharap lebih. mungkin karena itulah asing yang menyamankan hanya imajinasi. karena nyaman tak akan pernah ...