Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

ANDINI

#prolog# Zian menyesap aroma mocha dari cangkirnya. Secangkir mochacino panas buatan Bi Inem menemani malam dingin berhujannya. Laki-laki berkulit putih itu menatap jendela kamar yang masih terbuka lebar. Menampilkan hujan yang turun makin deras, hingga percikannya pun mampu menerobos masuk ke kamar yang didominasi warna light blue tersebut. Laki-laki berambut spike itu beranjak dari sofa dan berjalan mendekati jendela kamarnya. Alih-alih menutup, ia malah menjulurkan tangan dan membiarkan tangannya merasakan percikan air hujan yang berasal dari beranda kamarnya. Zian menutup mata perlahan, mendengarkan suara hujan yang bergema di telinganya. Sekelebat ingatan pun mulai bermunculan dalam kepalanya seirama gema suara hujan di kedua telinganya. ‘ Andini..’  ucapnya lirih. Sebuah nama melesat mulus dari bibir tipisnya. Sebuah nama yang selalu memenuhi kepalanya dan tentu saja hatinya. Zian membuka mata . Menampilkan iris mata cokelat yang diwariskan sang ayah padanya . ...