Langsung ke konten utama

cerpen ABAL-ABAL #1


Merpati dari tuhan..

Dahulu, aku pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa merpati dapat digunakan untuk mengantarkan surat atau pesan kepada orang lain. Meskipun aku sendiri tak begitu mengerti bagaimanakah caranya seekor merpati dapat mengantarkan pesan pada orang yang tepat. Tetapi mungkin saja  hal itu ada benarnya juga, coba saja perhatikan simbol dari perusahaan Pos negeri kita, burung merpati bukan?Terserahlah, karena jika hal itu benar maka itu artinya aku rasa dirimu seperti seekor merpati yang membawa begitu banyak pesan dan pelajaran di kehidupanku. Merpati yang Tuhan kirim untuk seseorang sepertiku.


-a flashback-
“Hhh~..” aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Langit biru muda terang dengan iringan awan putih yang bergerak menjauh secara perlahan menjadi pemandangan yang terlihat sejak tadi. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini, terbukti dari banyaknya puntung rokok yang berserakkan di sampingku. Aku berada di tempat ini lagi, Bukit di pinggir pantai yang merupakan tempat favorit orang yang selama 2 tahun ini kutunggu, meski aku tak tahu pasti keberadaannya dan ia juga tak pernah mengatakan bahwa ia akan datang menemuiku disini. tapi, entah kenapa tetap saja aku melangkahkan kaki ke bukit ini. Menunggu sesuatu yang tak pasti, seperti orang bodoh.
“maafkan aku..” gumamku sambil menutup mata,menikmati tiap desir angin laut yang berhembus. mencoba menetralisir rasa sesak  di dadaku atas rasa bersalah. Begitulah kalimat yang ingin kukatakan jika bertemu lagi dengannya. Ya..seperti kata orang penyesalan memang selalu datang belakangan. Aku tahu dia tak punya alasan untuk datang ke bukit ini dan menemuiku lagi karna aku telah menyakitinya, tapi lagi-lagi aku tak peduli. Aku tetap datang ke tempat ini sambil berharap dia akan suatu saat nanti.
“hah~” aku menghela nafas lagi, sungguh hal ini benar-benar menyesakkan.
“apa kau benar-benar tak bisa memaafkanku?” tanyaku menerawang jauh menatap lautan di depanku. Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangku
“enggg…maaf, apakah kamu Rendy?  Rendy Prawira?” tanyanya. Aku berdiri dan berbalik untuk melihat si pemilik suara. Sesaat tadi aku sempat berharap bahwa dia yang datang, tetapi ternyata bukan.
“iya..kamu siapa?” jawabku sambil menatap gadis bersweater putih pemilik suara tersebut. Gadis itu tersenyum sambil  berjalan ke arahku. Dari jarak sedekat ini aku dapat melihatnya lebih jelas. Dia cukup manis dan matanya sangat indah, dia memegang sebuah buku berwarna biru dengan cukup erat.
“aku Arumi. Arumi Ananda” jawabnya sambil menyodorkan tangannya. Aku menjabat tangannya sebentar.
“maaf, tapi sepertinya aku tidak mengenalmu” jawabku jujur. Aku memang tak mengenal gadis di depanku ini.
“hmm..kau memang tak mengenalku, aku juga tidak mengenalmu. Hanya saja ada seseorang yang selalu bercita tentang dirimu padaku” ucapnya sambil menatapku lekat.
“ehh? Siapa?” tanyaku pada Arumi.
“dari Ara. Dara Septiani, kau mengenalnya bukan?” tanyanya. Begitu nama itu disebut seluruh tubuhku terasa bergetar,dadaku bergemuruh, aku merasa bahagia dan gugup hanya karena mendengar namanya lagi. Dia orang yang selalu kutunggu selama 2 tahun ini, orang yang amat ingin kutemui, orang yang sangat ingin kuketahui kabarnya, orang yang membuatku selalu menghabiskan waktukku di tempat ini. Ara.
“kau mengenalnya?bagaimana kau bisa mengenalnya?lalu, dimana dia sekarang?” aku menguncang bahu Arumi tanpa sadar, mencecarnya dengan pertanyaan. Aku memandang sekeliling tapi tak ada tanda- tanda kehadiran Ara di tempat ini. Aku kembali memandang Arumi. Dia terlihat sedih, perlahan dia menurunkan tanganku dari bahunya. Dia menarik nafas sebelum kembali membuka suara
“engg..Ren, sebenarnya….”ucapannya terputus. Arumi kembali menarik nafasnya
“sebenarnya… Ara..Ara sudah meninggal 2 bulan yang lalu” ucapnya sambil meamandangku, matanya begitu sendu. Dadaku tiba-tiba menjadi sesak, aku takut. Seketika kakiku lemas, aku bersujud di hadapan Arumi.’ Takdir macam apa ini!apa maksud semua ini?!
‘tidak mungkin.tidak mungkin’ kata-kata itu terus terulang di otakku.
“bohong..” ucapku lirih.
“ Kumohon katakan ini adalah bohong”. Dia menggelengkan kepalanya menandakan ini adalah kenyataan,kenyataan terburuk. Kepalaku berat, rasa penyesalan menyelimutiku bahkan kini terasa lebih berat. Tanpa sadar aku menangis, menangisi kebodohanku.
“Ara bilang dia tidak pernah marah ataupun membencimu selama ini, alasan dia menghilang karna dia takut perasaannya yang sebenarnya padamu akan merepotkanmu”. Arumi memberikanku buku bersampul biru yang sedari tadi dipeluknya erat.
“Ara sangat bahagia pernah bertemu denganmu, begitulah yang sering dia katakan padaku” lanjut Arumi lagi. Aku membuka buku biru itu perlahan.
'aku tak memiliki mesin waktu untuk dapat kembali ke masa lalu,
Tapi aku memiliki kenangan yang mampu membuatku berjalan kembali ke masa lalu’
Dara Septiani
Begitulah kata-kata yang tertulis pada halaman pertama buku itu. Aku membuka halaman selanjutnya, dan persis seperti kata-kata di halaman pertama, buku ini membuatku kembali berjalan ke masa lalu, ke masa dimana aku masih bersama Ara. Halaman tersebut berisi foto-foto tempat kenangan kami, mulai dari awal pertemuan hingga akhir. Foto sekolah, tempat-tempat yang sering kami datangi berdua, jalanan yang pernah kami lewati, dan terakhir bukit ini. Tempat terakhirku bersamanya.
aku mengagumimu pada awalnya, berubah menjadi menyukaimu dan berakhir mencintaimu.

Aku tak pernah mampu mengatakannya karna aku masih tak yakin dengan perasaan ini, sampai pada akhirnya kau bersama dengan gadis itu. 
saat itu rasa sakit di dadaku membuatku sadar bahwa Kau adalah orang yang kucintai.
Terima kasih kau hadir di duniaku. Mungkin aku tak pernah bisa memilikimu, tapi sebagian hidupku adalah tentang dirimu. Rendy Prawira.’
Aku masih menatap lekat halaman terakhir buku itu. Sungguh betapa bodohnya aku membiarkan ia pergi dari duniaku saat itu. Tiba-tiba Arumi berjongkok di depanku.
“Ara pernah bilang dia berharap bahwa ketika kau menyebut namanya yang terlontar adalah kata terima kasih dan senyuman,bukan penyesalan dan air mata” ucapnya sambil tersenyum. Aku terdiam, mungkin Arumi benar. Aku merasa sangat berterimakasih karna Ara ada di hidupku. Kini perasaanku sedikit lebih tenang berkat gadis bermata indah ini.
“aku juga sangat berterimakasih pada Ara. Karena dialah aku mampu melihat dunia ini lagi, karena mata pemberiannya.” Ucap Arumi sambil mengadah menatap langit.
“ehh?mata itu..mata Ara?” aku menatap Arumi kaget. Dia hanya mengganguk.
Ara bekerja sebagai sukarelawan di salah satu rumah sakit,disanalah dia bertemu Arumi yang kebetulan menjadi pasien di rumah sakit tersebut dan mereka pun menjadi akrab. Tepat 2 bulan lalu terjadi kecelakaan naas yang merenggut nyawa Ara, namun sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia meminta dokter untuk memberikan matanya pada Arumi yang mengalami kebutaan akibat kecelakaan. Dan berbekal cerita Ara tentangku, Arumi nekat datang untuk mencariku dan menyerahkan buku ini. Sebagai ucapan terima kasih untuk cahaya yang Ara berikan padanya. Untuk kesekian kalinya Ara membuatku kagum. Dia mengajarkan banyak hal padaku dengan cara yang luar biasa. Aku memang menyesal karena tak bisa bertemu denganmu, tapi aku lebih menyesal karena belum sempat mengatakan
‘betapa beruntungnya aku mengenalmu, terima kasih Ara. Aku menyayangimu’
+-+
Sang merpati kini telah kembali pada pengirimnya. Dengan membawa surat balasan yang berisi ‘Terima kasih Tuhan atas keajaiban yang kau berikan padaku’.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

STORY OF ME

now playing : the Rain_Terlatih patah hati berbagi kisah tentu lebih menyenangkan dengan orang yang juga menjadi bagian dari hidup kita, tapi pernahkah kalian merasa ada pada fase ingin keluar dari zona nyaman dan bertemu dangan keterasingan ? asing yang menyamankan. terkadang aku berharap saat berjalan atau pergi ke suatu tempat dapat bertemu pandang dengan seseorang yang tak mengenal dan tak mengetahui apapun tentangku. berbincang tanpa menilai seperti apa sifat dan karakter kita, mengatakan apapun, membenarkan apapun, dan tentu saja menyalahkan apapun yang datang dalam kehidupan.  asing yang menyamankan. terkadang aku berharap mampu menangis tanpa harus menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. hanya memberi bahu dan meminjamkan tangannya hingga air mata mengering dan semuanya terlupakan. asing yang menyamankan. aku berharap bisa melakukannya tanpa berharap lebih. mungkin karena itulah asing yang menyamankan hanya imajinasi. karena nyaman tak akan pernah ...